1987 — When The Days Comes

“Setiap keputusan seseorang memiliki efek berantai bagi peristiwa-peristiwa lainnya”.

Film Korea 1987 Sedikit Mengingatkan Pada Gerakan 1998 di Indonesia

*Spoiler Alert!

Walau sudah menonton 1987 — When The Days Comes ini sebanyak 3 kali, rasanya aku masih dibuat takjub dengan performa film keluaran 2017 ini. Film ini mampu membangun tensi yang mendebarkan di sepanjang alurnya. Film ini juga terasa dekat karena mengingatkan dengan peristiwa bersejarah menuju reformasi di Indonesia, bagaimana tema kediktatoran rezim militer yang berjalan lama, tuduhan isu komunis yang dikencangkan pada individu-individu, dan pembungkaman terhadap aktivis-aktivis pro-demokrasi membangkitkan nilai-nilai kemanusiaan bagi penontonnya.

Mengusung genre political-thriller serta pengombinasiaannya dengan peristiwa nyata yaitu Gerakan Demokrasi Juni 1987 di Korea Selatan, film menjadi bagus ditonton untuk memahami sejarah dari Korea Selatan. Beberapa footage yang digunakan juga diambil dari dokumentasi nyata dari peristiwa lampau itu.

Sinopsis

Senjata terakhir yang kita miliki hanyalah kebenaran. Dan kebenaran itu akan menghancurkan rezim ini.

Film ini merupakan tribute dari peristiwa nyata di tahun 1987 di Korea Selatan. Film ini mengisahkan di tahun 1987 terjadi peristiwa berantai yang “dimulai” karena kematian seorang mahasiswa pro-demokrasi bernama Park Jongchul. Pihak kepolisian memberitakan bahwa penyebab kematiannya adalah serangan jantung. Namun, beberapa pihak menduga penyebab kematiannya karena disiksa selama interogasi oleh pihak kepolisian.

“Setiap keputusan oleh satu orang memiliki efek berantai bagi peristiwa-peristiwa lainnya”. Film ini memiliki empat tokoh kunci yaitu seorang jaksa, jurnalis, sipir penjara, dan “burung merpati” dalam mengungkap kebenaran dari kematian Jongchul. Rentetan peristiwa yang terjadi ini berujung pada Pemberontakan Demokratik Bulan Juni di Korea Selatan.

Pada akhirnya, film ini menggambarkan situasi tahun 1987 sendiri yang merupakan puncak dari keresahan masyarakat akan rezim militer yang totaliter di Korea Selatan saat itu. Kematian Jongchul merupakan momentum panas yang makin menggerakkan amarah publik akan situasi politik di Korea Selatan.

Kesan Pertama:

Aku jadi ingat saat pertama kali menonton film ini dengan ibu, di teater hanya ada dua orang lain selain kami. Bahkan kalau diingat-ingat, ketika itu aku mendapati jadwal tayangnya di siang hari di laman resmi CGV, tapi ketika aku datang ke CGV Marvel City Surabaya, ternyata jadwal tayang paling awal adalah di sore hari. Oh mungkin karena sesepi peminat itu ya.

Setelah selesai menonton film ini saya merasakan kemiripan isu yang diangkat dalam film ini dengan Indonesia. Pemerintahan yang otoriter, “menggoreng” isu komunis, dan. Gelombang protes di kedua negara ini, Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 dan Gerakan Demokrasi Juni 1987 rasanya mirip. Keduanya berangkat dari demo mahasiswa-mahasiswa pro-demokrasi. Inilah yang membuat aku merasa film ini “dekat” dengan masyarakat Indonesia.

Aku merasa penggunaan tone warna-warna yang “dingin” menambah kelam dan melarutkan emosi yang dibawa dari film itu. Hal yang sangat menarik dan unik dari film ini adalah gaya 4 angled-nya dalam menyajikan cerita dari sudut pandang para tokoh kuncinya. Para tokoh kunci dalam film ini memang memukau dengan karakteristik dan perannya masing-masing.

Highlight

Lee Haejoon for 1987

Berbicara mengenai peran, secara personal aku sangat tertarik dengan etos kerja Yoon Sangsam (Lee Heejoon) sebagai jurnalis dalam “berburu” keberaran dari kematian Jongcheol. Berbekal kecerdikannya, ia bersembunyi di toilet rumah sakit hingga malam agar bisa menanyai secara langsung dokter yang menangani kondisi kritis Jungcheol menjelang ajalnya. Selain itu ia juga memiliki kesigapan yang membantunya untuk tak melewatkan satu info kecil apa pun, seperti mengingat nomor plat mobil yang membawa keluarga Jongcheol.

Dari Yoon Sangsam, aku jadi makin mengapresiasi kerja jurnalistik, dari keteguhan mereka untuk terus bergerak dan manuver-manuver spontan yang dilakukan untuk mengejar kebenaran yang mereka cari.

Kim Taeri for 1987

Kalian ingin kami berbuat apa? Kami mau disuruh berperang dengan tentara yang memegang senjata itu?

Kalau berbicara tentang karakter favorit rasanya perkembangan karakter dari Yeonhee (Kim Taeri) cukup menggugah dan realistis di sepanjang film. Sebagai “burung merpati”, tentu cukup berisiko untuk mengantar pesan berkali-kali pada Kim Jeongnam yang saat itu merupakan buronan negara. Beruntung karena parasnya yang cantik dan usianya yang muda membuatnya bisa melenggang begitu saja tanpa harus dirazia oleh polisi. Hanya saja kematian ayahnya karena mencoba “bersuara” cukup mempengaruhinya dan ini bisa dilihat dengan keputusannya untuk “cari aman” dalam situasi politik yang terjadi di negaranya. Namun perlahan, setelah penangkapan pamannya dan kehadiran Hanyeol (Kang Dongwon) membuatnya bergerak dan kembali menjadi merpati untuk mengantar pesan terakhirnya.

Pihak lain yang pengaruhnya menarik untuk diulas adalah peran lembaga agama dalam film ini. Siapa menyangka bahwa institusi agama turut andil besar dalam perjuangan pro-demokrasi? Memang sih institusi tersebut dianggap “aman” sehingga kecil kemungkinan untuk dicurigai. Karena inilah banyak yang terkecoh bahwa institusi agama juga dianggap “nurut sama pemerintah”. Vihara membantu persembunyian dan penyamaran dari Kim Jeongnam (Sol Kyunggu). Gereja juga membantu menampung Kim Jeongnam dalam persembunyiannya, tapi yang paling menarik adalah bagaimana gereja mengumumkan fakta kematian Jeongnam dan banyak jurnalis hadir di dalam gereja tersebut.

Untuk sementara meredam amarah publik, “diperlukan” adanya kambing hitam untuk dijatuhi hukuman penjara atas kematian Jeongchol. Detektif Jo Hankyung (Park Heesoon), sebelumnya diberi jaminan bahwa ia hanya akan dipenjara selama sebulan. Tetapi dalam perkembangannya hukuman tersebut malah diperpanjang hingga 10 tahun. Walau diberikan sejumlah uang untuk kebutuhan hidup keluarganya, ia menolak. Ya namun pada akhirnya diterima lagi karena Komisaris Park mengancam akan membunuh keluarganya. Jujur scene ini cukup mengaduk emosi ketika loyalitas pada negara dipermainkan. Selain itu mengingat bagaimana di awal film ia masih memiliki power lebih dengan rekannya, lalu kemudian menjadi tidak berdaya akibat titah atasannya agar menjadi kambing hitam sebagai pelaku pembunuhan Park Jongchul, perkembangan karakter detektif ini dibawakan dengan baik oleh Park Heesoon.

Bagaimana mungkin melihat seseorang meninggal tanpa melakukan apapun?

Keteguhan hati dari sipir Han Byungyong (Hae Jinyoo) untuk setia pada kebenaran yang ia junjung agar membawa situasi politik Korea Selatan membaik juga menyentuh. Performa Jinyoo dalam membawakan karakter ini sangat bagus. Rasanya scene ketika ia disiksa dengan disetrum oleh beberapa polisi merupakan highlight yang menunjukkan betapa bagusnya kualitas aktingnya.

Mau jadi patriot atau pembelot?

Oposisi = Komunis. Mengingat tensi antara Korea Selatan dan Korea Utara masih memanas, tak heran isu ini dijadikan alasan untuk menangkap para pihak yang tidak menyukai Presiden Chun Doohwa dan melabelnya sebagai komunis. Ini ironis mengingat kubu oposisi atau pro-Demokrasi dilabel sebagai komunis dalam rangka melenyapkan “hambatan” untuk melanggengkan kekuasaan presiden saat itu. Hal ini juga rasanya mirip dengan histori sang negeri tercinta ya?

Selain beberapa karakter tersebut, gaya tengil dari jaksa Choi Hwan (Ha Jungwoo) juga menambah bumbu film ini. Aku juga dibikin gemas dengan bagaimana presiden Korea Selatan saat itu “cuci tangan” dengan memerintahkan penangkapan Komisionaris Park akibat masifnya tekanan publik sebagai respon atas.

Kang Dongwon as Lee Hanyeol

Peran Lee Hanyeol sebagai mahasiswa aktivis juga menambah rasa di film ini mengingat ia dibingkai secara romantikal dengan Yeonhe. Ya memang visual Kang Dongwon nggak bisa dilawan sih di film ini. Sedikit banyak scene Hanyeol dan Yeonhee memang menjadi part yang mencairkan jalannya film karena suasana tegang mendominasi di film ini. Walau sebagai cameo, scene terakhir ketika Hanyeol terbunuh dengan peluru yang mengenai bagian belakang kepalanya, dan moment itu terekam dan menjadi headline surat kabar, lalu kematiannya diantar banyak orang rasanya menjadi moment epic dan berpengaruh di penghujung film.

Terakhir, penayangan footage dari peristiwa nyata Gerakan Demokrasi Juni Korea Selatan yang ada di akhir film makin menguatkan pesan humanisme yang dibawa oleh film ini. Perjalanan panjang menuju Korea Selatan yang gemerlap seperti yang diketahui banyak orang sekarang ini rasanya membuat terenyuh.

Final Thoughts:

Yes, ini adalah film yang sangat aku rekomendasikan karena pesannya yang mengena bahwa keberhasilan perjuangan politik ditentukan oleh kontribusi banyak pihak. Kombinasi dari peran penting media, aparat penegak hukum, mahasiswa aktivis, sipir, dan lembaga keagamaan disajikan dengan sangat apik dalam film ini. Sehingga film ini memberikan sebuah “harapan” bahwa masih banyak “orang baik” yang bersungguh-sungguh mewujudkan negara yang lebih adil. Ini sangat menarik karena tidak seperti beberapa tontonan lain yang biasanya berfokus dan mengistimewakan satu tokoh saja sebagai penentu keberhasilan sebuah gerakan politik.

Sebagai film yang “serius” dan memiliki gaya penceritaan “ala estafet”, film ini untuk beberapa orang akan terasa membingungkan karena pergantian scene antar tokoh-tokoh kunci yang cepat dan tiap scene tersebut terasa sekilas-sekilas karena durasi yang tidak lama. Berbekal dari pengalaman pribadiku, film ini akan lebih baik jika ditonton secara fokus mulai dari awal hingga akhir film untuk memahami secara runtut film ini. Ya ini karena dulu akutelat 10 menit ketika datang ke bioskop padahal kematian Jongchul berada di awal film yang kemudian menjadi snowball effect di sepanjang film. Dan ketika melihat kedua kalinya disambi acara buka bersama, banyak temanku yang kurang paham alur ceritanya karena kurang fokus jadinya melewatkan beberapa scene penting.

--

--

--

Berponi dan Beropini

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Friri

Friri

Berponi dan Beropini

More from Medium

This is “Lady on a Bicycle” in front of an antique shop.

Wants Vs Needs In Closing Deals

SLOW COOKER CHICKEN NOODLE SOUP

10 Ideas for Space Themed Prompts