Cari Takjil di Gereja

Refleksi Peristiwa Pengeboman Gereja Surabaya 2018

Pada 13 Mei 2019, aku berkesempatan datang ke acara refleksi peristiwa “Pengeboman Gereja Surabaya” yang berlokasi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya, lokasi yang sama dari peristiwa mengerikan yang berlangsung di tanggal yang sama pada tahun sebelumnya. Bagaimana warga Surabaya bisa melupakan itu? Satu teror yang mengganggu kota yang “biasanya” damai dan toleran ini.

Mendengar berbagai cerita dari para manusia yang menyaksikan langsung aksi imoral dua tahun lalu itu cukup bikin bergidik. Belum ditambah unsur gore tentang daging dan tulang yang berceceran di sekitar gereja.

Katanya, biasanya Surabaya aman. Surabaya cukup toleran untuk masalah keberagaman. Namun pada 13 Mei 2018, tiga gereja di kota ini di”rusak” oleh oknum-oknum pembenci toleransi.

Sebagai orang yang tinggal nggak jauh dari gereja tersebut, masih ingat kalau pas dua tahun lalu itu agak khawatir kalau mau keluar rumah karena takut ada teror susulan. Sebagai sesama manusia, tentu juga khawatir akan keselamatan manusia-manusia lain. Ini perkara teror kemanusiaan.

Dan sebel aja kenapa aksi tersebut dilakukan pas hari Minggu yang notabene adalah hari khusus umat Nasrani untuk beribadah. Logikanya kamu juga mengantar orang lain menuju surganya bukan?

Balik lagi ke acara diskusi. Ada argumen bahwa pencegahan radikalisme dan intoleransi bisa dimulai dengan mengubah kurikulum pendidikan. Karena pada masa ini, pendidikan agama yang didapat generasi “milenial” cenderung meliyankan penganut agama lain bahkan dapat berujung dengan tindakan yang lebih ekstrim dengan membahayakan kelompok agama lain.

Kalau secara pribadi malah aku merasa perlu untuk menghapus mapel agama di institusi pendidikan. Kerap kali narasinya dari aliran dominan. Juga karena agama sebenernya adalah privat, lebih baik dipelajari lewat komunitas karena agama lebih baik dicari karena inisiatif.

Para ustaz (online) atau pengajar mapel agama di masa sekarang juga disinyalir rentan tidak belajar agama dari para “syekh” dan tak menggunakan rujukan-rujukan yang mapan untuk mengajar agama bagi kaum milenial. Dan di era post-truth ini, milenial ya cuma nangkep apa yang disajikan dalam media, tanpa disaring. Males cari kebenaran sendiri. Hal ini dapat menjadi bahaya karena mereka rentan terpengaruh ajaran yang “sesat” dengan menghabisi kelompok agama lain dalam rangka berjuang untuk kebenaran agama mereka sendiri di muka bumi. Mereka adalah satu-satunya kebenaran.

Lanjut. Baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, Polri turut mengutuk aksi pengeboman pada 13 Mei 2018 itu. Juga berjanji memberikan ganti rugi bagi korban atau keluarga korban. Nyatanya? Ya sekadar omongan. Pun gak ada pendampingan psikologis yang disediain negara buat mbantu mulihin trauma korban dan keluarganya.

Aku merasa diskriminasi pemerintah di sini nyata. Tidak menjadikan prioritas merupakan bukti arogannya para elite negeri untuk tak merasa kepedihan minoritas adalah persoalan bersama. Tidak merasa itu ancaman serius. Tidak merasa peristiwa ini bisa berulang

Akhirnya pihak gereja lah yang secara mandiri membantu penanganan para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Begitu pula dengan upaya pencegahan untuk mengantisipasi jika teror serupa terjadi, atau upaya pencegahan radikalisme.

Acara ini kemudian dilanjutkan dengan pembagian takjil dan makanan untuk buka puasa. Rasanya buber di gereja itu berbeda. Agak ada perasaan adem gitu ngeliat para muslim, apalagi yang dengan jelas menunjukkan simbol-simbol agama Islam seperti jilbab dan peci, dengan rukun makan bareng di dalam gereja.

Mungkin ada perdebatan, “Boleh gak sih buber di gereja?”

Ada yang bilang nggak boleh karena kegiatan agama dibenturkan di rumah peribadatan agama lain. Di sisi lain, para libertarian, merasa lokasi buber cuma perkara teknis. Itu cuma tempat.

Sebagai individu yang sejak kecil dikelilingi aliran agama dominan, lingkungan yang religius, tapi ortu dalam banyak hal cukup liberal, tentu banyak pertimbangan sebelum memantapkan diri buat ikut buber di gereja. Tapi, mau sampai kapan terus anti dengan simbol-simbol agama lain?

Pertimbangan lain adalah ketika di luar dan di dalam gereja udah berjajar para polisi. Simbol itu agak bikin takut sih. Kemudian agak was-was juga. Kemudian keinget kalau faktor keamanan di gereja menjadi penting, sebagai antisipasi hal-hal yang nggak diinginkan. Sebahaya itu bahkan untuk beribadah. Ketakutan ini yang agaknya sering disepelekan oleh individu-individu dalam kelompok agama yang dominan.

Buka Puasa di Gereja

Semenjak menghadiri acara ini, refleksi peristiwa Pengeboman Gereja Surabaya di tahun 2018 dan buber di gereja, rasanya ini sangat menyadarkanku akan realitas beragama di Indonesia dan menggugahku untuk lebih berempati dengan melihat dari kacamata kelompok agama yang tidak dominan di negaraku. Ini adalah salah satu titik balikku. Ya secara keseluruhan ini menjadi pengalaman yang berharga juga karena aku tak lagi memusingkan ajaran yang seakan menyuruh untuk anti atau takut pada simbol agama lain seperti yang biasa aku terima di pelajaran agama.

Sejuk rasanya ketika penganut agama Katholik dengan senyumnya memberikan muslim makanan untuk berbuka puasa. Ah, ternyata toleransi bisa semenenangkan itu.

--

--

--

Berponi dan Beropini

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Friri

Friri

Berponi dan Beropini

More from Medium

CoinRadr

Short Blog 1 — An Introduction, and My Hometown

Daily Media Intake

Crodo.io