Green Book: Membalik Stereotip dan Status

Layaknya “comfort food”, Green Book memberikan kesan hangat dan menyentuh justru karena pengemasannya yang sederhana dalam menyibak rasisme.

*spoiler alert!

Rasanya sangat wajar bahwa Green Book berhasil memboyong banyak sekali penghargaan film. Sebagai individu menyukai film yang literal, film ini sukses membawa Friri larut sepanjang jalan ceritanya. Memang film-film sederhana yang santai rasanya lebih mampu menyeret empati penonton secara luas untuk memahami fenomena yang disajikan dalam film.

Film ini memberi sensasi seperti “comfort food” untuk Friri karena pesannya yang disajikan dengan to the point, dikemas secara sederhana, sehingga bisa menyentuh sisi kemanusiaan penonton untuk merasakan bagaimana pengaruh rasisme bagi kehidupan individu dan bagaimana masyarakat memperlakukannya.

Seperti comfort food juga karena pasalnya setelah dua kali ditonton pun film ini masih memberikan energi yang mirip dengan itu. Mungkin karena pada pengalaman pertama menonton film ini, saat itu Friri kelaparan dan baru makan bento di dalam teater untuk makan malam setelah sebelumnya muter-muter di mal yang berbeda. Jadinya seperti mengisi bahan bakar perut dan pikiran. Saat itu juga penayangan Green Book di bioskop tidak ramai karena rasanya itu diputar pasca kemenangan film ini di Oscar *kalau tidak salah, jadi bukan penayangan pertama di bioskop. Dannn, itu adalah pertama kalinya juga Friri menonton solo :) Pada pengalaman kedua pun setelah menonton film ini lagi di situs streaming pas malem-malem, rasanya masih seperti makanan malam hari yang menghangatkan.

Oke, kembali ke film. Berlatar di tahun 1962 di Amerika Serikat, isu rasisme pada kulit hitam saat itu mendapat tempat penting dalam film ini. Kombo dari dua karakter yang sangat kontras dalam berbagai status Shirley ini berhasil membolak-balik pandangan tentang privilege dan diskriminasi rasial. Selain itu, penggunaan power yang dipunya ketika berhadapan dengan masalah dan value yang dijunjung juga menjadi sorotan dalam film ini.

Teruss, tulisan ini nanti akan lebih banyak menyoroti beberapa poin penting yang menarik bagi Friri di sepanjang film.Kaitannya ada yang keliatan rada nggak nyambung sih. Nggak apa-apa, biar panjang.

Trivia Dulu Kali Ya

Farrelly, Brian Hayes Currie, dan Nick Vallelonga (putra Vallelonga) menulis film ini berdasarkan wawancara pada Vallelonga dan Shirley, serta surat yang ditulis sang ayah tersebut pada ibunya. Credit scene ini ditunjukkan dalam penghujung film.

Penamaan “Green Book” dalam film ini berdasarkan buku panduan berjudul “The Negro Motorist” yang diterbitkan pada abad ke-20 khusus untuk pelancong Afrika-Amerika yang ditulis oleh Victor Hugo Green.

Biar lebih enak, Friri menyoroti hal-hal “sampingan” dulu yang ditemukan dalam film ini. Setelahnya baru Friri menyoroti poin utama film ini yaitu rasisme dengan lebih rinci dan runtut.

Bahasa Menunjukkan Kelas

Pilihan kata menunjukkan kelasmu di masyarakat, ia menggambarkan latar belakang pendidikanmu. Shirley menunjukkan ini dengan pilihan katanya yang santun dan terdengar diplomatis ketika berbicara dengan seseorang, walau pada beberapa hal ia secara elegan nampak arogan.

Berbeda dengan Tony Lip, ia hanya bicara seadanya dengan kosakata sederhana yang umum diketahui. Ya itu ‘kan tujuan komunikasi? Yang penting bukannya kedua belah pihak paham?

Penggunaan bahasa memang menunjukkan hal yang lebih dalam tentang seorang individu, bagaimana tingkat pendidikannya dan tipe-tipe orang seperti apa yang biasa dihadapi.

Perlahan-lahan Shirley berhasil membuat Tony Lip memahami pentingnya bahasa melalui surat puitis yang terus dikirim Tony Lip pada istrinya sebagai janjinya. Bahkan Tony Lip jadi bisa membuat sendiri surat puitis dengan tangannya sendiri dan hal ini yang membuat istrinya sangat bahagia. Berpisah — LDR selama delapan minggu dengan hanya berkomunikasi lewat surat memang susah, tetapi emosi yang tercurahkan secara lembut dalam medium tersebut yang membuat pasangannnya begitu bangga, apalagi menyaksikan perjalanan sang suami yang mulai berjuang untuk puitis dalam berkata-kata.

Kemampuan bahasa dari Shirley pada akhirnya menunjukkan seberapa kuat pengaruh bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tak hanya sebagai estetika saja dalam bantuannya pada Tony Lip untuk menulis surat romantis, melainkan juga sebagai penguat persuasi kata-katanya untuk tujuan yang diplomatis.

Hidup dengan Praktis

“Aku tinggal di jalanan, kau tinggal di istana. Duniaku lebih hitam dari duniamu”.

Terbiasa dengan kerasnya kehidupan, Tony Lip nampak luwes dalam menghadapi permasalahan yang berhadapan dengan orang lain. Sogokan atau “tanda terima kasih” menjadi biasa baginya. Tentu ini membuat Shirley marah karena cara tersebut dianggapnya salah, tidak terhormat.

Tapi menghadapi situasi krisis di mana ia dipenjara padahal masih ada tanggungan tur esoknya membuat Shirley juga mengadopsi metode Tony Lip. Berkat statusnya, ia mengenal Bobby Kennedy yang saat itu menjabat sebagai Jaksa Agung Amerika Serikat dan itu dimanfaatkannya untuk meminta tolong dalam membebaskannya dari penjara di daerah antah berantah.

Metode Shirley ini jelas familier dengan realitas yang terjadi di negeri ini. Betapa banyak individu yang ketika berhadapan dengan polisi — biasanya kasus tabrakan atau tilang kendaran, berusaha “lari” dari tanggung jawab [hukuman] dengan mengancam — lebih sering gertak sambal sih, aparat yang bersangkutan dengan ucapan, “Saya kenal polisi ini loh. Jabatannya tinggi loh”. Atau “Kamu nggak kenal siapa saya?”

Yah, hukum terlihat kalah di tangan kekuasaan.

Sebenarnya ini juga menunjukkan ironi bahwa “hidup lurus” dengan memegang teguh nilai-nilai idealis pada akhirnya akan bertabrakan dengan pilihan untuk melepasnya ketika dihadapkan pada situasi yang sulit nan mendesak.

Oke. Itu tadi tiga sisi “sampingan” yang Friri lihat dalam film. Selanjutnya Friri akan lebih menyoroti poin rasisme secara lebih rinci seperti ya tema yang film ini suguhkan.

Ketika Atasanmu Berkulit Hitam

Mengingat periode 1960-an di Amerika Serikat yang masih sarat dengan stereotip rasial, kekagetan Tony Lip ketika calon atasannya “Dr. Shirley” seorang pianis yang tinggal di rumah rasanya lumrah. Sebab pada periode itu, orang-orang berkulit hitam identik dengan pekerjaan kasar, rasanya tidak biasa menemukan dan bahkan bertemu langsung dengan orang berkulit hitam yang berbudaya, berbakat, dan kaya.

“Kau ada masalah atasanmu berkulit hitam?”

Saat itu Shirley menengakan pakaian “bagus” bertabur emas dan duduk di atas kursi yang berbentuk singgasana, tak lupa koleksi barang-barang mahalnya seperti tulang-tulang. Scene ini tentu sangat ikonik mengingat menyimbolkan pembalikan status antara kulit hitam dan kulit putih karena posisi tempat duduk Shirley “sangat di atas” Tony Lip.

Menanggung Rasisme Seumur Hidup

“Aku menanggung percakapan itu seumur hidup. Bisakah kau menanggungnya semalam saja?”

Rasisme yang diterima oleh Shirley berulang kali ditunjukkan dalam film. Bahkan karena saking seringnya ia sabar dalam menghadapi berbagai perilaku rasis dalam hidupnya, ia menanyakan pada Shirley apakah ia bisa menanggungnya semalam saja?

Sebut saja ketika di tengah derasnya hujan di malam hari, polisi memaksa Shirley untuk keluar dari mobil hanya untuk menanyakan KTP-nya. Ini jelas berbeda dengan perlakuan polisi itu terhadap Tony Lip yang hanya menanyakan KTP-nya dengan menurunkan jendela mobil saja.

Seperti najis. Mungkin penggunaan istilah najis terlihat terlalu ekstrim atau memiliki konteks beda dengan apa yang terjadi dalam film. Namun menyaksikan scene ketika pegawai toko menolak Shirley untuk mencoba jas di tokonya karena ia berkulit hitam sedikit mengingatkan Friri akan praktik meliyankan “pemeluk agama lain” atau bahkan yang seagama tetapi berbeda aliran. Pada scene itu bahkan Tony-Lip dikira sebagai pembeli. Di sinilah stereotip bekerja, melihat penampilannya sebagai laki-laki berkulit putih lalu mengidentifikasinya sebagai bagian dari kelompok yang dikenal dengan segudang privilege, terutama apalagi kalau bukan dikira kaya dan terhormat.

“Orang-orang kulit putih yang kaya membayarku untuk bermain piano untuk membuat mereka merasa berbudaya. Setelah keluar panggung, aku kembali menjadi Negro bagi mereka.”

Walau diundang sebagai performer, di belakang layar Shirley masihlah menjadi “Negro” bagi para staf berkulit putih yang mengundangnya. Sebut saja bagaimana pianonya yang mulanya dipenuhi sampah, bagaimana staf menyuruhnya untuk menggunakan toilet di luar gedung, ruang gantinya yang sempit di sebelah pantry restoran, bahkan ia dilarang makan di restoran tempatnya tampil.

Status berupa kekayaan dan pendidikan tinggi nyatanya pada beberapa pihak tidak mempengaruhi bagaimana upaya mereka dalam menghapus rasisme. Justru itu membuat mereka terlihat seperti malaikat dengan mengapresiasi talenta orang berwarna sekaligus mengambil jarak dengannya dan membuat mereka terlihat peduli dengan humanisme.

Eksotisme. Tontonan.

Begitulah cara kerja dalam beberapa masyarakat. Untuk memandang kelompok diri sendiri sebagai berbudaya dan maju, perlu menghadirkan karakter yang perbedaannya mencolok dengan “apa yang serupa dalam suatu kelompok”, mempertontonkannya, melihatnya sebagai hal eksotis karena mereka yang dibawah “kita” bisa membumbung tinggi, tapi tentu tetap ada batasnya.

Krisis Identitas: Di mana Posisiku?

Identitas individu merupakan hal yang kompleks karena dibangun oleh berbagai hal. Ras, warna kulit, pendidikan, hingga achievement. Beberapa individu memang ingin menarik diri dengan berjarak dengan beberapa hal terkait identitas atau “kediriannya”, utamanya yang sifatnya given. Peran stereotip dalam membangun konsep akan sekelompok orang sudah terbukti menyusahkan banyak orang karena formula “Oh kamu pasti sifatnya ini karena berasal dari sini”. Stereotip berperan sebagai penanda bahwa individu diasosiasikan dengan kebanyakan orang yang memiliki identitas yang sama.

Banyak orang dengan serta merta mempercayai dan menggunakan stereotip dalam berbagai situasi. Stereotip menjadi biasa digunakan dalam basa-basi hingga ia tumbuh menjadi seperangkat pengetahuan yang digunakan untuk memahami konteks latar belakang seseorang sehingga bisa menyesuaikan respon terhadapnya. Penggunaan stereotip ini juga digunakan mulanya ketika menilai penampilan dan gaya berbicara individu.

Benturan antara stereotip yang dikenakan dan realitas ini kian memuncakkan krisis identitas yang dialami Shirley. Posisi Shirley bukannya tak bisa makin membingungkan lagi.

“Aku juga tidak diterima di kaumku karena aku tak seperti mereka”.

Dari sini, kesendirian yang dipilih oleh Shirley nampak masuk akal walau miris. Melalui scene yang menunjukkan beberapa orang kulit hitam yang menjadi petani, sedangkan Shirley berada di kursi penumpang dengan menjadi “bos” Tony Lip, telah menggambarkan kecamuk Shirley dalam memaknai identitasnya. Ditambah lagi ketika Shirley mendengar ungkapan, “Kau tidak tahu apa-apa tentang kaummu”.

Kalau aku tak cukup hitam, tak cukup putih, tak cukup jantan. Lalu siapakah aku?

Jujur, konflik identitas yang dialami Shirley ini terasa sangat pelik. Lalu bagaimana ia harus menjalani identitasnya?

Rasanya ini menjadi makanan sehari-hari bagi setiap individu. Haruskah terus berperan seperti yang distereotipkan? Haruskah melampaui batas-batas stereotip itu? Jalan mana yang lebih mudah? Atau jalan mana yang lebih memuaskan?

You never win with violence. You only win when you maintain your dignity.

Namun di sinilah perjuangan Shirley dipertaruhkan. Meski melewati realitas kejam seperti itu yang tak hanya sekali, ia tetap berusaha menampilkan yang terbaik, dirinya sebagai musisi berbakat dan dirinya sebagai representasi kulit hitam yang berbudaya, yang diharapkannya kelak dapat mengubah perspektif masyarakat terhadap posisi orang-orang berkulit hitam agar mereka kelak bisa segera dilihat sebagai setara.

Tapi ya sabar ada batasnya.

Walau menolak tampil di pertunjukan terakhirnya, Shirley tetap dalam karakternya yang elegan dalam tutur kata dan gesture-nya.

Friri sendiri merasa penggunaan stereotip ini sangat tidak tepat, bahkan untuk bersenda gurau. Ironinya penggunaan stereotip ini dilanggengkan dan terus digunakan bahkan oleh individu-individu yang dikenal sebagai intelek. Bersumber pengalaman pribadi Friri, ada salah satu dosen dari Fakultas Ilmu Sosial yang menggunakan stereotip sebagai olokan pada seorang mahasiswa dari Madura. Bagaimana seisi kelas bersama-sama menertawakan stereotip itu. Jadi ya orang dengan tingkat pendidikan tinggi tidak serta merta memilih untuk tidak bersikap rasis. Pun ketika stereotip ini dimainkan dalam konteks komedi rasanya tidak tepat menurut penulis secara personal. Mungkin pengecualian jika stereotip tersebut diujarkan oleh seseorang yang mengalami pengalaman tersebut dalam dirinya, bukannya menertawakannya sebagai objek. Tapi ya tetap rasanya tidak pas.

Ini sedikit mengingatkan pada artikel bahwa beberapa komedian merais keuntungan dan popularitas karena menggunakan stereotip identitasnya sebagai materi komedi dan membangun karakter yang unik. Misalnya, komedian Timur yang melanggengkan stereotip bahwa mereka tertinggal dengan karakter yang dibawakan. Tidak semua penonton memiliki pengetahuan memadai mengenai bagaimana orang Timur itu, bagaimana realitas di sana, bagaimana budaya di sana, bagaimana sarana prasarana di sana, ya karena media sangat Jakarta-sentris. Atau bagaimana karakter perempuan Padang yang digambarkan sebagai pelit dan perhitungan terhadap uang. Bisa terlihat bahwa penggunaan stereotip sebagai karakter komedi ini menjadi sangat disayangkan yang mengaminkan stereotip tersebut.

Tapi ya namanya cari duit, yang laku di pasaran kan yang model kayak gitu.

Rasis adalah Fase

Green Book menurut Friri menggambarkan bahwa perilaku rasis merupakan fase. Klisenya “tak kenal maka tak sayang

Tony Lip, seorang laki-laki Italia-Amerika mulanya digambarkan sebagai sosok yang sedikit rasis. Ini terlihat ketika ia membuang gelas kuning yang diminum dua tukang servis berkulit hitam di rumahnya. Walau kemudian untungnya istrinya memungut kembali gelas tersebut dari tempat sampah.

Rasisme dari Tony Lip sendiri juga nampak dari perkataannya, “Dia tak bermain [piano] seperti orang berwarna… Dia genius”.

Terdengar seperti pujian? Rasanya ini agak familier, betapa pernyataan ini terdengar “memuji” sekaligus melanggengkan stigma pada ras dari orang yang bersangkutan. Tak heran memang bahwa dunia ini dikonstruksi sedemikian rupa dalam memposisikan laki-laki kulit putih cisgender sebagai kelompok yang superior di dunia. Kecerdasan dan peradaban maju hanya milik mereka katanya.

Bagaimana jika skenario ini sedikit dimodifikasi?

“Kamu kuat juga angkat-angkat barang untuk seorang perempuan”.

Lalu hal ini dibantah dengan argumen, “Kan memang massa otot perempuan lebih lemah dari laki-laki”.

Atau, “Kamu lumayan cantik juga walau kulitnya hitam”.

Ya memang contohnya terlihat sangat berbeda, Green Book menyajikannya dalam konteks rasial sedangkan contoh yang Friri buat terkait dengan gender. Tapi ada kesamaan antara keduanya yaitu sama-sama bentuk pujian yang dilontarkan pada “kelas kedua”. Stigma akan diperparah jika statusnya sebagai perempuan berkulit hitam, stigmanya menjadi dobel. Sedangkan di Green Book, stigma dobel ini terlihat dengan Shirley yang ternyata adalah gay dalam satu scene-nya yang membuatnya dipenjara. Hal ini mengakibatkan ia terlihat lebih buruk.

Tidak ada yang patut dibanggakan dalam rasisme berbalut “pujian” seperti ini. Rasis tetap rasis walau dibungkus dengan cara apa pun. Ya ini juga yang membuat penulis mengubah pandangan bahwa cukup memuji dengan kelebihan seseorang dengan menilai muatannya, tanpa mengaitkannya dengan hal lain. Tapi ya agak sulit juga sih tergantung konteksnya.

Kembali ke Green Book. Seperti yang dinyatakan di awal, film ini seakan menyajikan pesan bahwa tindakan rasis adalah fase. Perjalanan yang dilalui Tony-Lip dan Shirley menumbuhkan toleransi dan hormat terhadap masing-masing mereka. Ini menunjukkan bahwa untuk membuktikan individu tidak seperti apa yang distereotipkan padanya, butuh juga lamanya waktu yang dihabiskan bersama dalam aktivitas yang mengharuskan tiap hari berjumpa dan berinteraksi. Keintiman — selain pengetahuan, juga merupakan faktor penting dalam mengeliminasi rasisme yang tertumbuh dalam individu, walau ini membutuhkan waktu yang lama.

Hitam Putih: Konstruksi Menyesatkan

Hanya karena warna. Hal yang baik, hal yang ideal hanya dilihat dari warna.

Sejarah panjang kolonialisme menyumbang cara pandang bahwa ras Kaukasian yang dikenal dengan ciri khas kulitnya yang cerah, dilihat sebagai paling unggul karena dapat menaklukkan dunia, sedangkan karena posisi budak sering kali berasal dari orang-orang kulit hitam maka itu membaut posisi mereka menjadi kebalikan dari posisi Kaukasian dalam masyarakat.

Di Indonesia sendiri politik segregasi bentukan Belanda juga masih terasa dampaknya ketika Kaukasian (kulit putih) berada dalam puncak hierarki, etnis seperti Tionghoa dan Arab berada dalam strata kedua, dan warga lokal dalam posisi bawah. Cara pandang ini juga yang masih terasa pengaruhnya dalam mengangungkan “bule” serta membuat mereka dilihat sebagai lebih superior, eksotis, dan mengagumkan. Kehadiran bule tak heran membuat mereka menonjol dan menjadi perhatian di beberapa tempat pariwisata dan mal. “Minta foto bareng, Mister”, begitu kalau kejadiannya di tempat pariwisata, padahal artis juga bukan. Atau bagaimana di Bali, bule mendapat service yang lebih baik dibandingkan yang rupanya seperti masyarakat lokal.

Stigma pada seseorang berkulit gelap kemudian menjadi “terbelakang”, “kotor”, dan “miskin”.

Bagaimana bisa makna dilekatkan pada warna?

Ya walau dalam perkembangannya hitam menjadi simbol egalitarianisme, seperti dress code para peserta Kamisan.

Analogi warna ternyata masih lah menyesatkan. Friri jadi teringat penjelasan salah seorang dosen pada saat ospek maba, “Coba ingat betapa sejak kecil, dalam institusi apa pun, penggunaan analogi hitam putih digunakan untuk menyimbolkan kebaikan dan keburukan. Pada konteks kecantikan di beberapa negara, konstruksi kecantikannya meletakkan individu-individu dengan kulit cerah di posisi yang lebih tinggi dan diharapkan, dibanding yang berkulit lebih gelap. Realitas ini juga terjadi bukan hanya di negara yang mayoritas penduduknya berkulit gelap, di Korea Selatan saja konstruksi ini menjadi acuan kecantikan di sana, terutama untuk perempuan, walau laki-laki juga dihina jika gelap.”

Simbol baik-buruk dengan penggunaan warna hitam-putih ini juga terlihat dalam cara cerita rakyat membingkai tokoh pahlawan dan musuhnya dengan warna cerah dan warna gelap. Putih juga diasosiasikan dengan kebajikan, kemurnian. Hitam adalah dosa, jahat, atau kotor.

Berbicara mengenai penggunaan “Hitam-Putih” lainnya, utamanya di Indonesia, rasanya kurang afdol kalau belum membahas Deddy Corbuzier.

Eh bukan. Standar kecantikan maksudnya.

Di Indonesia sendiri konstruksi kecantikan pada perempuan seakan terus diharuskan untuk menjadi “putih”. Alasan populernya sih karena pemilik kulit cerah di masyarakat Indonesia itu jarang, makanya kulit cerah menjadi dambaan .Ini juga sangat dipengaruhi oleh peran media dalam menampilkan iklan-iklan yang menggambarkan ketidakpercayaan diri perempuan karena kulitnya tidak cerah sehingga menganggap dirinya belum cantik. Lihat saja betapa larisnya perawatan kulit yang menggunakan istilah “brightening”, “whitening”, atau “fair”. Bahkan praktik “suntik putih” atau konsumsi produk-produk pemutih yang belum memiliki lisensi telah diuji BPOM juga tak jarang ditemui, hingga merusak kondisi kulit beberapa perempuan.

Selain itu, sebut saja beberapa model-model pakaian branded di Indonesia yang juga didominasi model berkulit cerah. Atau lihat betapa mudahnya aktris bertampang “bule” berseliweran di TV. Lucunya nih karena konstruksi kecantikan yang terobsesi pada kulit putih, berbagai brand make up yang beredar di Indonesia juga shade foundation-nya lebih banyak pada range medium to fair. Kalaupun range medium to dark biasanya disediakan oleh brand tertentu tapi dengan harga yang lebih mahal. Aneh memang. Seakan mayoritas yang berkulit sawo matang itu harus membayar lebih mahal hanya untuk shade foundation yang sesuai warna kulit. Oh tapi tak hanya itu. Friri juga menilai bahwa karena konstruksi “cantik harus putih” ini tidak heran kalau harus memakai foundation yang sangat cerah, yang tak jarang undertone-nya cool, jadi kalau dipakai mukanya abu-abu gitu. Produk tone up cream juga masih laris saja di pasaran.

Tapi konstruksi ini juga berlaku di Korea Selatan sih. Padahal mereka secara bawaan sudah berkulit cerah. Apa karena masyarakat di sana homogen jadi berlomba-lomba menjadi kulit tercerah ya?

Sepertinya pembahasan hitam-putih ke standar kecantikan ini agak melebar ya dari konteks hitam-putih dalam film. Gapapa deh mumpung masih bisa disambungin.

Gitu aja juga sih poin-poin yang Friri rasa menarik untuk disoroti dan dihubungkan dengan realitas dalam masyarakat.

Terakhir banget,

Ya intinya film ini sangat Friri rekomendasikan :)

--

--

--

Berponi dan Beropini

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Friri

Friri

Berponi dan Beropini

More from Medium

Putin’s naked aggression and a lesson to the world

Is The Grass Really Greener?

Right and Wrong: The Power of Words

Assessing African Scaling Perspectives