Normal yang Tidak Normal

Dulu sempat terpikir olehku tentang definisi normal. Paling banyak pasti menyahutnya dengan norma sosial. Tapi menurutku itu belum cukup untuk mendefinisikan normal.

Bahkan kondisi kulit tak luput dari label normal. Katanya kulit normal itu yang fine-fine saja, tak banyak masalah.

Jadi normal itu ketika kamu menjadi mainstream atau menjadi bagian dari arus katanya. Yang menerjangnya dianggap tidak normal katanya.

Tapi menjadi “mainstream” ini pun sebenarnya mencakup banyak hal juga.

Tapi (lagi) jika dilihat dari pengertian normal jika dikaitkan dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat, berarti normal adalah ketika kamu berperilaku seperti apa yang diidealkan –atau dituntut — oleh para dominan di masyarakatmu.

Iya kalau baik.

Eh ‘kan nilai dan norma baik masih relatif juga ya baik-buruknya.

Kayak uang panas tuh. Normal-normal aja kata para dominan disini kalau kamu memberi salam tempel untuk mempermudah urusanmu. Hitung-hitung memberi sedekah katanya.

Lah, tapi kalau yang mempermudah urusanmu itu merupakan kewajiban dari yang kau beri sedekah? Wah, itu melanggar norma namanya. Eh, tapi masih tetap normal ya gitu.

Menjadi normal berarti kamu adalah duplikasi dari komunitasmu. Terus di mana sisimu sebagai individu?

Normal itu hasil dikte.

Normal itu tren. Tren baik dianggap normal, tren buruk juga tetap dianggap normal.

Oh, jadi normal itu ketika perilakumu dianggap biasa oleh masyarakat, bahkan dimaklumi.

Dalih pendukung normal adalah “namanya juga manusia”. Sering tuh dibilang kalau misalnya anak SMA melakukan hubungan ehem juga dianggap normal karena namanya juga manusia. Dilihat dari norma itu salah. Berarti tidak normal ‘kan? Eh tapi kok tetap dimaklumi? Berarti tidak normal dong?

Terus kalau misalnya ada orang yang berusaha menahan pelampiasan hasrat seksualnya dibilang nggak normal karena dalih manusia juga punya nafsu, normal aja lah begituan.

Tapi ya dari banyaknya manusia di dunia ini langka sekali orang yang normal. Langka sekali.

Jadi situ masih mau teriak-teriak “Dasar tidak normal!”, padahal kamu juga tidak normal?

--

--

--

Berponi dan Beropini

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Friri

Friri

Berponi dan Beropini

More from Medium

A is for: Abuela and Atole

花散峪山人考

Earth Day Checklist for a “Win-Win” for Babies + Planet

Ambushed by Languish