Satu, Satu, Aku Sayang Aku

“Satu, satu, aku sayang ibu
Dua, dua, juga sayang ayah
Tiga, tiga, sayang adik-kakak
Satu, dua, tiga, sayang semuanya”

Ya, betapa banyak dari kita yang mendendangkan lagu itu sedari kecil.

Tapi entah kenapa rasanya lagu ini seakan memasuki alam bawah sadar individu-individu yang menyanyikannya. Dramatis ya. Tapi ini sebenernya (agak) serius kok.

Lagu ini seakan menjadi doktrin untuk menjadikan masyarakat Indonesia kian jadi altruis. Kebaikan hidup hanya lebih baik ketika memprioritaskan untuk melayani orang lain. Atau menempatkan kolektivitas di atas kepentingan individu, maksudnya memprioritaskan keluarga di atas diri sendiri. Individu adalah bagian dari kelompok, itu prinsipsnya.

Ini menjadi sentilan juga karena gagasan ini justru aku temukan pada 2018 lalu. Setahun setelahnya, ketika kampanye self-love digaungkan rasanya jadi cocok lah korelasinya dengan lagu ini.

Yang pertama kali terpikirkan mungkin terkait masalah “balas jasa” gaji individu pada keluarga, utamanya pada orang tua sih. Ini jadi sedikit mengingatkan akan konsep “berbakti pada orang tua” sebagai tanda sayang. Kalau “berbicara balik” pada orang tua karena ketidaksukaan atau ketidaksetujuan dengan perkataan atau perilaku orang tua malah dibilang “Lah kok mbantah. Durhaka ya kamu!” Sedangkan konsep orang tua yang durhaka ke anak nggak pernah terdengar. Hubungan yang dinormalisasi antara orang tua dan anak jadinya harus searah gitu, dari atas ke bawah, bukan sebaliknya.

Lagu berjudul “Sayang semuanya” — ya banyak yang nggak tahu judul lagunya memang — ini juga kerasa sebagai pembelajaran individu untuk menjadi anggota keluarga yang “baik” sih. Ya ini berhubungan dengan sosialisasi primer juga sih karena anak pertama kali memiliki kelekatan itu dengan orang tuanya terlebih dulu.

Lagu ini juga menyiratkan konsep keluarga “yang ideal”. Ibu, ayah, anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu. Bukan 2 anak lebih baik jadinya. Mencederai imbauan KB berarti ya.

Tapi di sisi lain lagu ini juga seakan nyiratin ideologi dominan dalam memandang sosok ibu.

Coba nyanyikan lagi, ibu ada di posisi pertama yang disayang ‘kan? Ya mau tidak mau melihat urutan “yang disayang” itu melihatnya bisa sebagai hierarki prioritas anggota keluarga yang “ideal” untuk disayang di masyarakat. Sesuai sekali dengan peribahasa “Surga di telapak kaki ibu”, atau “Ibumu, Ibumu, ibumu, baru ayahmu” yang mengilustrasikan keistimewaan posisi ibu di mata Islam untuk diperlakukan secara paling baik. Agak ironis sih karena walau ibu istimewa, tapi masyarakatnya masih (sangat) patriarkal dalam berbagai aspek di luar itu.

Terus kenapa “sayang” yang ketiga ke adik dulu? Mikirnya jadi, “Oh, karena kita lebih tua jadi seakan ada kewajiban buat ngemong yang lebih muda, buat lebih memperhatikan mereka”. Kalau dilihat dari struktur keluarga, emang biasa ya si bungsu paling disayang dan dimanja gitu sama anggota keluarga. Jadinya nggak jarang juga kalo kebanyakan perhatian bikin si bungsu nggak jarang ngelunjak. Katanya karena mereka butuh “role model” juga dengan meneladani kakak-kakaknya.

Selain itu pengistimewaan si bungsu ini bisa dilihat juga karena perlu usaha lebih dari seluruh anggota keluarga buat nyiptain lingkungan yang penuh kasih buat si bungsu ini biar bisa bertumbuh kembang secara lebih baik. Gitu, bund.

Terus kapan giliran anak tengah ini buat sayang dirinya sendiri?

Nggak disebutin sama sekali loh di lagu itu.

Inilah yang keliatannya bikin individu lebih berusaha untuk memendam “dirinya sendiri” dengan mendahulukan orang lain. Keinginannya, pandangannya menjadi tidak lebih penting, bahkan bisa menjadi tidak penting sama sekali. Lebih baik tidak mengecewakan orang lain, gitu kira-kira prinsipnya.

Keliatan mulia ya? Atau emang masyarakat didoktrin buat jadi people pleaser? Biar kepentingan kolektif gitu bisa lebih mudah tercapai dan jadi tertib gitu?

Ya memang gitu sih. Peradaban manusia dibangun karena manusia mengambil andil banyak dengan membentuk komunitas, sebagai anggota ya harus mendahulukan kepentingan bersama.

Gitu terus sampai individu meledak karena nggak kuat sama ekspektasi yang “dibebankan” itu.

Aku lihat sendiri juga dari temenku yang masuk kategori “people pleaser” itu. Susah buat nolak ngebantu orang lain. Kalo nggak ngebantu bisa langsung dicap nggak setia kawan juga.

Sekarang ngelihatnya berbuat baik ke orang lain karena “ketakutan” juga bukan? Takut ditinggalin. Tapi yang paling takut kalo sampe diomongin di belakang, difitnah, atau disebarin ke banyak orang tentang penolakan untuk membantu teman itu.

Bahkan idiom di suatu agama juga setahuku cuma “Hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia”. Entah aku lihat mungkin ini juga yang bikin kurang populernya narasi “hubungan ke dalam diri” juga.

Tapi apa menempatkan “aku dalam lagu itu” akan dianggap egois juga?

Entah kenapa memikirkan diri sendiri sering diasosiasikan dengan “egois”. Bahkan counter dari kampanye self-love itu juga melihatnya membuat individu menjadi seenaknya dalam berperilaku dan nggak mengindahkan perasaan individu lainnya. “Love yourself” dilihat sebagai bencana karena disalahkan oleh para individu egois yang balik melakukan guilt-tripping ke orang lain.

Ya aku memang nggak suka menggeneralisasi juga. Memang ada tipikal individu yang egonya dapat sokongan dengan jadi sak enak udel e dewe dengan dalih “I love myself first”. Ada emang yang “bawaannya” dari lama emang egois gitu. Tapi konteks bawaan yang aku maksud sebenernya lebih ke nurture daripada nature sih.

Selain itu karena orientasinya sering kali “ke orang lain”, jadinya wajar kalo individu lebih “paham” orang lain daripada dirinya sendiri. Akibatnya ya bisa susah buat ngenalin emosinya sendiri ketika berada di titik tertentu sampai stres nggak berkesudahan.

Hal lain yang bisa kulihat dari lagu ini adalah melakukan sesuatu itu baiknya step by step. “Satu satu (dulu), dua dua (dulu), dst). Nggak bisa multitasking gitu, wkwkwk. Rasanya kayak disuruh fokus ke satu hal dulu (sampai selesai) baru bisa berlanjut fokus ke lainnya.

“Satu dua tiga, sayang semuanya”.

Hal lain … apa ya mungkin karena cara berhitung kita dibiasakan runtut 1, 2, 3 bukannya dihitung mundur dari 3, 2, 1. Jadi lihatnya ke depan, bukan ke belakang. Kalo gini lebih keliatan optimis ya.

Nggak juga. Bisa keliatan juga kalo nggak mencoba berefleksi.

Atau “1, 2, 3” biar cepet aja biar nggak usah nyebutin semua angka. Lagian buat ngebiasain anak kecil juga buat belajar menghitung secara runtut.

Kenapa nggak 5 sekalian biar keliatan Pancasilais gitu.

Nggak ding. Balik ke kaitannya dengan sosialisasi primer, anak harus dikenalkan ke konsep keluarga dulu baru bisa mahamin konsep individu di luar “kelompoknya”. Oh jadi individu diajarkan buat loyal ke kelompok paling awalnya ya?

Kalau dibikin versi Pancasilais, jadinya

“Satu, satu, aku sayang Tuhan
Dua, dua, juga sayang kemanusiaan
Tiga, tiga, sayang keadilan
Empat-empat sayang kerakyatan

Lima-lima sayang keadilan

Satu dua tiga empat lima, sayang ideologiku

Gitu dong biar lebih gampang mendoktrin ideologi negara pada rakyatnya sedari kecil.

Oke jelas tulisan ini rasanya over analyzing, wkwkwk. Nggak apa-apa. Emang masih fasenya masyarakat kita buat main-main cocoklogi.

Oke, lanjut.

Terus, kenapa harus sayang semuanya? Kalo ada yang toksik gimana?

Nggak dong. Tuhan aja Maha Penyayang, masa hamba-Nya yang cuma remahan ini pilih kasih. *terusdiserangnggakbaikcomparegituankemanusia

Mungkin kalo generasi “mie-lenial” sekarang nyanyinya bakal gini:

“Satu, satu, aku sayang aku
Dua, dua, juga sayang support system”

Intinya gitu, biar ringkas. Khas milenial.

Udah sekian aja tulisan ini. Kesimpulan ada di tangan masing-masing. Kalo di kepala masing-masing juga nggak apa-apa.

--

--

--

Berponi dan Beropini

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Friri

Friri

Berponi dan Beropini

More from Medium

Severance

What about those blunders that wreak havoc on your psyche?

My Batman

The Kardashians: Late-Stage Capitalism’s Human Face