The Perks of Being a Wallflower

Charlie menjalani kehidupan remajanya sebagai wallflower. Tidak banyak bercerita, tidak banyak bertindak, dan tiba-tiba ia meledak.

Aku masih ingat dulu sengaja melewatkan film ini karena dari trailer-nya saja terasa seperti drama percintaan remaja yang klise, walau dulu bucin sama Logan Lerman gegara Percy Jackson. Lalu, 8 tahun kemudian barulah mencoba menonton film ini. Sepertinya karena pengaruh paparan teman dari temanku yang merekomendasikan film ini.

Dan …

Oh iya paham, film ini seperti menceritakan tentang dia.

*Spoiler Alert!

Tentang Charlie

Sosok Charlie yang pendiam namun memiliki pemikiran yang kompleks, sedikit mengingatkanku dengan seorang teman yang kelihatannya serupa dengan sosok yang diperankan Logan Lerman itu.

My doctor said we can’t choose where we come from but we can choose where we go from there. I know it’s not all the answers but it was enough to start putting these pieces together

Sebelumnya aku merasa Charlie hanya sebatas remaja pendiam, malu, dan pasif dalam hubungan sosialnya. Tapi di balik semua itu ternyata ia memendam trauma, mulai dari pengalaman masa kecilnya yang mengalami kekerasan seksual dari bibinya dan bibinya meninggal dalam kecelakaan mobil, hingga kematian sahabatnya ketika SMP.

Mengenai kematian bibi Charlie, ia sendiri menyatakan pada psikiaternya bahwa apakah boleh ia bahagia karena bibinya mati? Sebagai korban kekerasan seksual yang pelakunya merupakan kerabat dari keluarga besar dan menilik kondisi Charlie yang masih anak-anak saat itu, pertanyaannya ini tentu menyayat. Kudos buat Logan Lerman karena pada moment breakdown-nya ini ia bisa menggugah sentimen penonton untuk melihat kembali betapa pengalaman korban kekerasan seksual tidak bisa dianggap remeh.

Kasus Charlie ini juga harusnya menjadi refleksi bahwa laki-laki jelas bisa menjadi korban kekerasan seksual. Sebenarnya isu gender yang dibawa dalam film ini mengingatkan pada maraknya pandangan yang juga sering tergambar di beberapa pop culture bahwa kekerasan seksual seolah-olah “hanya milik perempuan” saja dan mengabaikan kasus kekerasan seksual pada laki-laki. Maskulinitas hegemonik rasanya seakan-akan menyuruh laki-laki untuk tidak ambil serius jika kekerasan seksual terjadi pada mereka. Bagaimana jika mereka terbuka akan itu dan mengatakannya pada pihak lain? “Loh kok korban? Ya harusnya dinikmati lah” Bahkan pernyataan itu juga bisa jadi dilontarkan polisi ketika mendapati pelaporan kasus kekerasan seksual pada laki-laki. Inilah yang membuat angka pelaporan kasus kekerasan seksual pada laki-laki tidak banyak, ya karena mau lapor juga bagaimana kalau diremehkan begitu.

Kembali pada Charlie.

Sisi Charlie yang tidak ingin mengganggu dan kehilangan orang-orang terdekatnya membuat penulis bersimpati padanya. Ia lebih memilih diam dan menjadi pihak yang pasif dalam hubungan sosialnya. Tidak banyak bercerita, tidak banyak bertindak, dan tiba-tiba ia meledak.

Potongan-potongan adegan yang menujukkan kondisi Charlie yang tidak sadar akan apa yang barusan dilakukannya — selain karena kemungkinan merupakan efek pengalaman traumatisnya yang mempengaruhi kondisinya, penulis merasa tindakan impulsif Charlie seperti tindakan refleks berjangka pendek.

Ya, rasanya Charlie terasa dekat secara personal denganku. Ia sebagai wallflower, yang kikuk, pendiam, dan observan rasanya seperti fase yang kemungkinan dialami oleh para (beberapa jenis) introvert. Entah kenapa rasanya karakter Charlie ini jadi relatable sekali

Ya, di antara semua karakter dalam film ini aku memang paling terpukau dengan Charlie sih. Pembawaan Logan Lerman sebagai Charlie di film ini benar-benar jempolan. Karakternya dibawakan dengan sempurna sehingga membuat penonton tersentuh dengan karakternya.

Selain itu,

Aku merasa film ini cukup mengeksplor isu gender lainnya seperti hubungan gay antara Patrick dan Brad, serta bagaimana ciuman pertama Sam direbut oleh bos ayahnya. Mengingat setting waktu film ini berkisar di tahun 1990-an di Amerika Serikat, tentu untuk terbuka mengenai pengalaman ini juga menjadi susah.

Cerita

Beberapa peristiwa traumatis yang terjadi sepanjang film memang hanya dituangkan dalam sesi “curcol” para pemainnya. Untuk beberapa orang, mungkin model penceritaan ini tidak memberikan efek “menohok”. Seperti misalnya kematian sahabat Charlie ketika ia masih SMP dan bagaimana itu berefek padanya tidak cukup dijelaskan dalam film. Ya sebenarnya terdapat scene sahabatnya ini tetapi ini menjadi deleted scene dan tidak tayang dalam perilisannya di bioskop.

Hal lain yang sedikit hal yang agak mengganggu mungkin adalah scene menuju akhir. Film ini sendiri tidak menjelaskan bahwa Charlie ketika SMP pernah dirawat di RSJ, atau bagaimana tidak adanya scene yang memberikan isyarat bahwa keluarganya aware dengan kondisi Charlie. Rasanya build up cerita dari sudut pandang keluarganya akan lebih menguatkan impact dan pemahaman terhadap Charlie. Ya memang ada, tapi lagi-lagi dimasukkan dalam deleted scene.

Aku menemukan deleted scene yang beredar dari film ini tentang kakak Charlie yang melakukan aborsi dari hubungannya dengan pacarnya. Mengingat sang sutradara lebih ingin mengangkat isu mental awareness bagi remaja, scene ini kemudian dibuang.

Deleted Scene yang Disayangkan

The Perks of Being a Wallflower adalah film yang sederhana, relatable, dan somewhat comforting. Tapi aku agak menyayangkan dihapusnya beberapa deleted scene penting, terutama scene ketika kakak Charlie melakukan aborsi. Scene ini sebenarnya bisa menjelaskan bonding yang mulai membaik antar kakak adik yang mulai tidak akrab di antara mereka, terutama untuk menambah impact di scene ketika Charlie mengalami breakdown dan menelpon kakaknya. Dalam rilisan filmnya, scene ini hanya menunjukkan seakan-akan Candace sedang bad mood atau memang “tidak akrab” dengan adiknya ketika tiba-tiba Charlie ingin duduk dengannya di kantin setelah insiden peristiwa tukar kado yang membuat hubungannya dengan Mary Elizabeth, Sam, dan geng-nya memburuk.

Sebenarnya aku juga ingin agar film ini menampilkan scene ketika Charlie membacakan puisi yang disangkanya sebagai catatan bunuh diri, agar menjadikan film ini lebih kaya akan eksplorasi isu mental dan bunuh diri.

Film ini mulanya mendapat rating R dari MPAA karena memuat penggunaan alkohol dan narkoba oleh remaja, konten seksual, dan perkelahian remaja, tetapi kemudian diubah menjadi PG-13 dengan menghapus beberapa scene. Aku juga belum menemukan rilisan resmi dari Chbosky tentang pertimbangan dalam penghapusan beberapa scene ini. Namun, beberapa pihak memperkirakan karena Chbosky ingin filmnya menjadi PG-13 sehingga bisa dapat ditonton oleh para remaja untuk meningkatkan kesadaran akan isu mental. Tapi untungnya ini tidak terlalu mengganggu jalannya cerita karena baik novel dan filmnya dapat diekseskusi secara baik oleh Chbosky sehingga tetap bisa meninggalkan kesan yang sama.

Terakhir,

Karena dikemas secara ringan, film ini membawa penonton ikut larut bersama emosi Charlie di sepanjang film. Elemen-elemen kejutan yang dihadirkan dalam film ini mengalir secara perlahan tapi tidak terlalu menyentak. Dengan plot drama yang sederhana dan kecepatan alurnya yang pas, barulah terasa klimaksnya yang menonjok. Karenanya ada perasaan tidak nyaman yang tertinggal bahkan setelah selesai menonton film ini.

Berlatar tahun 1992, film yang diadaptasi dari novel berjudul sama “The Perks of Being Wallflower” ini menghadirkan kesan hangat dari sinematografinya. Ya, film ini seperti menjadi memori akan nostalgia film-film keluaran lama. Stephen Chbosky selaku novelis dan sutradara film ini berhasil mempertahankan orisinalitasnya sehingga pesan yang dibawakan keduanya berkesan dengan rasa yang sama.

Film ini menyajikan gambaran yang genuine dari mental illness yang dialami remaja. Ini menarik karena beberapa tontonan lain yang mengangkat isu mental illness biasa menggambarkannya dengan cara “ekstrim”. Ini menjadi film yang tepat untuk menggambarkan isu mental dengan lebih appropriate, dan kesederhanaan itulah yang mampu membuat penonton dapat berempati pada isu-isu ini. Film ini pada akhirnya meninggalkan kesan hangat tapi sedikit agak menggelisahkan bagiku karena isu mental yang menjadi plot twist film ini.

--

--

--

Berponi dan Beropini

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Friri

Friri

Berponi dan Beropini

More from Medium

Learning from The Happiness Project

The Hero’s Journey

On Injustice and Purpose

Lonely Habit